Pintar memang merupakan salah satu tujuan sekolah agar mensukseskan generasi penerus alias para murid. Pintar dibutuhkan pula di kalangan para pekerja, karena dengan kepintaran tersebut seseorang dapat dikatakan hebat, cerdik, pandai, dsb. Apabila kita merupakan orang yang pintar, semua orang pasti mau berteman dengan kita. Tapi apakah pintar itu merupakan hal yang paling utama yang ditanamkan disekolah, khususnya untuk anak murid? Banyak sekolah yang memiliki prestasi murid diatas rata-rata, banyak pula sekolah yang mengajarkan murid yang awalnya tidak bisa menulis dan membaca, hingga menjadi orang yang dipuja-puja oleh orang lain, tetapi berapakah perbandingan banyaknya, sekolah yang mengajarkan pendidikan ilmu, sekaligus pendidikan karakter kepada siswanya? Mungkin sebagian besar anak-anak yang telah di-cap sekolah, maupun orang-orang disekitarnya sebagai orang yang pintar, merasa hanya dengan kepintaran itu saja yang dibawa dirinya kemana-mana akan menjadikan semua orang tunduk dan patuh kepadanya, serta setuju dengan semua yang dilakukannya/dikatakannya?Tidak. Semua orang memiliki perasaan masing-masing, kreativitas lain yang tidak sejalan dengan kita, semua pribadi itu unik, dan kita dilahirkan untuk melengkapi kekurangan orang lain dengan kelebihan yang ada di dalam diri kita. Jadi kita tidak dapat hanya memaksakan kehendak kita, kemudian menganggap orang lain yang level kepintarannya mungkin jauh dibawah kita merupakan orang yang tidak berguna. Kalau hanya pintar saja modal kita, sedangkan kita adalah pribadi yang egois, ingin menang sendiri serta semena-mena, tentulah orang-orang yang berada disekitar kita menjadi risih berteman dengan kita. Kelak apabila kita telah menjadi pemimpin kita akan menjadi pemimpin yang diktator seperti sifat awal yang telah tumbuh di dalam diri kita. Disini kembali peran orangtua, lingkungan, maupun sekolah khusunya dituntut untuk menanamkan pendidikan yang penting untuk mengatur selain kecerdasan tadi, yaitu menanamkan pendidikan karakter tersebut. Apa sih pendidikan karakter tersebut? Pendidikan karakter menurut David Elkin & David Sweet Ph.D. adalah usahayang
disengaja untukmembantu orang memahami,
peduli,dan bertindak
berdasarkannilai-nilai etikainti.Ketika kita berpikirtentang jeniskarakteryang kita inginkanuntukanak-anak kita, jelas bahwa
kitaingin merekabisa
menilaiapa yang benar,sangat pedulitentangapa yang benar,dan kemudianmelakukan apa yang merekayakini
sebagaibenar, bahkandalammenghadapi tekanandari luardan godaandari dalam. Secara universal nilai-nilai etika inti mencakup kesalehan(piety), keterpercayaan (trustworthiness), hormat(respect), tanggung jawab (responsibility), keadilan (fairness), kepedulian (caring), dan kewarganegaraan (citizenship). Keterpercayaan meliputi sifat-sifat seperti integritas, keteguhan hati, kejujuran, kebenaran, ketulusan hati, terus terang, andal, menepati janji, dan loyalitas. Jadi apakah sekarang pintar saja yang diperlukan untuk menuju masa depan yang sukses? Apakah kita dapat sukses karena peran dari diri kita saja sepenuhnya, tanpa bantuan orang lain. Manusia adalah mahluk sosial, yang berarti manusia yang mebutuhkan orang lain, sebagai interaksinya selama masih ada di dunia ini. Kita tidak dapat berhasil maupun sukses tanpa bantuan orang lain. Jika pendidikan karakter ini tidak diberikan di sekolah, mau bagaimana nantinya dunia kita ini? Melahirkan orang yang berotak pintar saja tetapi tidak memiliki budi pekerti yang luhur, sama saja negara kita akan hancur. Barangkali koruptor merupakan salah satu produk gagal sekolah yang kurang menanamkan pendidikan karakter, apabila pendidikan karakter ini ditanamkan pada pendidikan Indonesia, kita tidak hanya menjadi negara yang terus merangkak untuk maju, melainkan dapat menjadi negara yang maju. Selama ini para pemimpin mengumandangkan ingin menjadikan Indonesia sebagai negara yang maju, bagaimana mau maju, kalau mentalitas rakyat serta para pemimpin yang terus menerus bobrok dan tidak memiliki perubahan ini. Renungkan sekarang, sebelum semua menjadi terlambat. Masih banyak waktu yang kita miliki untuk membuat negara menjadi sama dengan taraf negara maju yang lain. Indonesia itu kaya, lho, sumber daya manusianya juga bagus, jadi mengapa tidak, kalau kita menjadi negara yang maju?? Ayo kita mulai dari diri kita dulu, kemudian kita tanamkan hal tersebut kepada orang lain. Aku dan kamu pasti bisa!!
Masalah
Pendidikan di Indonesia
Kualitas
pendidikan jika dilihat sekarang ini sangatlah memprihatinkan dilihat dari data
UNESCO tahun 2000 tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human
Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan,
kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan, bahwa indeks
pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia,
Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan
ke-109 (1999) yang dibuktikan antara lain dengan data UNESCO (2000) Menurut
survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di
Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia
berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia
(2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan
ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Dan masih menurut survei dari
lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai
pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia.
Kualitas
pendidikan di Indonesia memang mulai terlihat memburuk. Dilihat dari kondisi
guru-gurunya, murid-muridnya ataupun fasilitas yang disediakan oleh sekolahnya. Ketiga hal tadi merupakan aspek penting terwujudnya pendidikan yang baik.
Mengapa? Bayangkan saja bagaimana sebuah sekolah dengan fasilitas yang canggih, guru-guru yang terpelajar tanpa kehadiran murid?
Seperti kita lihat sekarang banyak ditemukan
guru-guru baru yang menjamur dimana-mana. Beberapa alasan diantaranya karena
mereka tidak keterima dijurusan lain sehingga memutuskan untuk menjadi guru
atau bisa juga karena masalah ekonomi. Kecuali guru yang sudah lama dan memang
sepenuh hati mau menjadi seorang pengajar. Banyak masalah masalah guru yang
bangsa kita hadapi diantaranya kecilnya gaji seorang guru. Mengapa seorang
guru yang mempunyai tugas berat membimbing masyarakat agar menciptakan sebuah
bangsa yang maju bangsa yang siap menerima masa depan malah diterlantarkan? Bayangkan
saja jika banyak guru yang mengundurkan diri karena gajinya yang kecil.
Bagaimana nasib bangsa kita? Bagaimana bangsa kita bias maju melawan era
globalisasi yang semakin berkembang ini?
Murid yang berkarakter merupakan
harapan bangsa untuk menata masa depan yang lebih baik. Rendahnya kualitas
dari seorang pelajar akan memberikan
pengaruh yang buruk bagi bangsa Indonesia sendiri. Misalnya saja budaya
menyontek. Tak bisa dipungkiri budaya menyontek membawa pengaruh yang sangat
buruk. Mengapa saya katakan demikian? Karena dengan menanamkan budaya
menyontek seorang anak akan terbiasa melakukan sesuatu dengan hal yang instant. Dia akan terbiasa melakukan semuanya dengan bantuan orang lain dan
tidak akan menjadi seorang yang mandiri . Bagaimana jika suatu saat nanti ia dihadapkan pada realita? Apa ia bisa mengusahakan tercapainya sesuatu sendiri?
Demikian juga dengan fasilitas sekolah. Walaupun tak jarang kita temui ada sekolah-sekolah yang tak mempunyai ruangan kelas, laboratorium, bahkan akses ke sekolahpun harus menyebrang melalui jembatan, sungai, dan lain-lain. Fasilitas sekolah yang memadai akan mempermudah murid-muridnya dalam belajar pula dan sebaliknya.
Mahalnya biaya pendidikan membuat sebagian orang yang 'kurang' dalam hal ekonomi akhirnya harus putus sekolah bahkan ada yang tidak sekolah sama sekali. Saya berikan saja contoh konkritnya. Di Indonesia sendiri banyak anak-anak yang berasal dari desa tidak bersekolah karena tidak adanya sekolah di daerah itu, tidak mempunyai uang untuk membeli seragam, buku-buku tulis, dan lain-lain. Banyak dari anak-anak yang tidak bisa bersekolah itu akhirnya mejadi penggembala sapi, pembantu rumah tangga ataupun hanya membantu orang tua mereka dirumah. Hampir setengah orang-orang yang berasal dari kampung atau desa tidak bisa membaca. Padahal membaca adalah jendela masa depan. Dengan membaca kita jadi memiliki banyak pengetahuan dan juga menambah kecerdasan kita sendiri.
Teman-teman ayo mulai dari sekarang hindari kebiasaan 'intanst' yang sering kita lakukan. Belajar untuk mandiri mulai dari sekarang. Kita dapat menjauhi kebisaan mencontek kalau kita rajin belajar dan percayalah selalu pada kemampuan yang kita miliki. Kalau kita rajin belajar apapun test , atau tantangan yang diberikan buat kita pasti kita akan menerima dan melakukan dengan biasa saja. Tapi kalau kita malas belajar maka kita akan bingung jika mendapat test dari guru. Dilatarbelakangi oleh rasa gengsi, malu akan nilai jelek, dan kurang percaya diri akan menuntun kita ke jalan yang salah dan mengambil cara pintas seperti mencontek.
Jadi syukurilah teman-teman apa yang ada sekarang terutama pendidikan. Janganlah menanggap sekolah sebagai sesuatu yang berat, menjadi suatu beban yang harus ditanggung 6 hari seminggu. Enjoy apa yang ada dan kamu punya sekarang. Jangan lupa juga teman-teman bantulah teman kita yang kesusahan itu dengan memberi bantuan beasiswa, buku-buku pelajaran, dll. Jangan lupa ora et la bora "berdoa dan belajar" :).